Do’a Sang Nenek

Pada suatu hari di desa yang terpencil hiduplah seorang nenek dan 2 cucu. Mereka tinggal dengan bahagia, suatu ketika cucu pertama nenek Siti yang bernama Adi. Adi sangat ingin pergi ke kota untuk mencari kehidupan yang lebih baik.

“Nek, saya ingin bicara dengan nenek sebentar !” kata Adi.

“Bicara apa di ?” jawab Nek Siti.

“Hmm,,, saya mau ke kota boleh tidak ?” Tanya Adi.

“Memang disana cucu mau ada apa ?” Tanya nek Siti.

“Saya ingin bekerja disana !” jawab Adi.

“Memang kamu ke sana bersama siapa ?” Tanya nek Siti.

“Bersama pak Bakri nek !” jawab Adi.

“Pak Bakri ??? Memeng dia akan memberi kamu pekerjaan apa ?” tanya nek Siti

“Beliau ingin saya bekerja di sebuah Perusahaan milik temannya pak Bakri” jawab Adi.

“Hmm,,, begitu, nanti nenek piker-pikir lagi dech”

Jawab nek Siti.

“Ya sudah nek tidak apa-apa kok !” kata Adi agak sedikit kesal.

Setelah hari ke-3 Adi bertanya kepada nek siti tentang keinginannya pergi ke kota, akan tetapi waktu Adi mau bertanya ternyata nek Siti sedang tidur. Adi menunggu sampai nek Siti bangun, Setelah Adi menunggu sangat lama dan akhirnya dia juga tertidur. Setelah keduanya tidur agak lama sampai sore, Ina cucu nenek yang lainnya dating untuk membangunkan mereka supaya mereka bisa makan malam bersama. Ina merupakan cucu yang sangat rajin memasak, mengatur rumah, dll. Semua pekerjaan rumah hanya dia saja yang melakukan itu, karena Adi hanya memikirkan harta saja dan dia selalu ingin cita-cita yang sangat tinggi seperti ungkapan “Cebol menggayuh lintang” yang artinya sesuatu hal yang tidak akan pernah mungkin bisa melakukan itu tanpa ada usaha yang berarti.

Setelah mereka selesai makan, Adi langsung menanyakan keinginannya yaitu dia ingin pergi ke kota untuk mencari kehidupan yang lebih baik dengan mencari pekerjaan disana.

“Nek, bagaimana dengan pertanyaan saya kemarin?” Tanya Adi.

“Pertanyaan apa Di ?” Jawab nek siti.

“Nenek lupa ta ???? kata Adi.

“Hmm… coba saya ingat-ingat dulu di…” Jawab nek Siti.

“Sudah nek ! Jangan di ingat-ingat, saya kan kemarin bertanya kepada nenek tentang keinginan saya untuk pergi ke kota, apa boleh nek ?” Tanya Adi dengan agak kasar karena Adi sudah sangat kesal dengan nek Siti yang pelupa dan itu sering terjadi.

“Boleh kok Di…” jawab nek Siti.

“Beneran nek ?? saya boleh ke kota ??” saut Adi dengan hati yang sangat gembira.

“Ya Di nenek izinin ….tetapi kamu tidak boleh lupa sama nenek dan Ina ya ?” kata nenek.

“Ya nek, saya tidak akan pernah sama nenek dan Ina kok…” Jawab Adi.

Tetapi di dalam hatinya Adi berkata buat apa ingat sama kalian yang hanya bisa minta-minta hasil yang akan aku dapat dari usha aku untuk pergi ke kota.

Padahal di dalam pikiran nek Siti, Beliau hanya berpikir supaya Adi di kota mendapatkan pekerjaan yang halal dan barokah. Budi dengan senang hati mulai menyiapkan barang-barang yang diperlukan untuk pergi ke kota, dia membawa barang sangat banyak sekali seperti orang yang meninggalkan rumah untuk selamanya, itu dikarenakan Adi tidak tahu kapan dia bisa kembali ke desa dan itupun jika dia kembali dari kota butuh waktu yang sangat lama sekali. Setelah Adi siap untuk pergi ke kota, pak Bakri datang ke rumahnya untuk memberitahu Adi kalau pergi ke kota harus mebutuhkan biaya yang tidak sedikit karena itu Adi harus menyiapkan uang yang harus sesuai dengan permintaan pak Bakri. Setelah pak Bakri menyampaikan itu pak Bakri langsung pergi meninggalkan rumah Adi, Karena tidak betah di rumah Adi yang selalu panas dan lembab. Adi terus memikirkan car untuk mendapatkan uang yang di butuhkannya untuk pergi ke kota. Dia terus berpikir cara cepat mendapat uang tersebut. Selama Adi berpikir dia merasa tidak tenang dia selalu mondar-mandir kesana-kesini, sampai Ina yang melihat bertanya kepada Adi.

“Ada apa Di ? kok dari tadi kamu mondar-mandir kesana-kesini.” Kata Ina dengan penasarnnya.

“Itu Na saya ingin mencari uang untuk pergi ke kota” jawab Adi.

“Memang berapa jumlah uang yang digunakan untuk pergi ke kota tersebut ? jawab Ina.

“Tidak banyak kok, cuma Rp 5000.000,00.” Jawab Adi.

“5 juta ? Katamu tidak banyak, kamu saja belum mendapatkan pekerjaan apa-apa sudah berani bicara bahwa uang 5 juta itu tidak banyak.” Jawab Ina dengan sedikit menunjukkan ekspresi kaget.

“Menurutmu Na siapa oaring yang mempunyai uang sebesar itu ?” Tanya Adi dengan sedikit penasaran.

“Menurut saya paling nek Siti mempunyai uang segitu.” Jawab Ina.

“Kalau begitu saya akan pergi ke nenek untuk meminta uang tersebut.” Jawab Adi dengan sedikit penasaran, apa benar kalau nenek Siti mempunyai uang segitu, padahal selama ini nek Siti kerjaannya hanyalah seorang yang hanya melamun di rumah waktu sendirian. Setelah Adi selesai bicara dengan Ina, ia langsung pergi ke nenek Siti yang waktu itu sedang memasak di dapur. Langsung nenek Siti di ajak bicara.

“Nek katanya Ina nenek punya uang yang cukup banyak ya ?” Tanya Adi.

“Ya di, saya memang mempunyai uang tetapi hanya saya gunakan untuk tabungan naik haji.” Jawab nek Siti.

“Saya boleh minta uang untuk pergi ke kota nek ?” Tanya Adi.

“Memang kamu ingin uang berapa ?” Tanya Nek Siti.

“Tidak banyak kok nek.” Jawab Adi.

“Ya nenek tahu, berapa di ?” Tanya nek Siti yang penasaran dengan uang yang akan diminta oleh Adi.

“Cuma 5 juta nek.” Jawab Adi dengan kata-kata yang seakan bahwa uang tersebut tidak banyak.

“5 juta ? uang nenek hanya tersisa 7 juta di.” Jawab nek Siti dengan pelan.

“Ya nek, kan katanya nenek tadi nenek punya uang tabungan yang ingin digunakan untuk naik haji, pasti tabungannya banyak donk !” jab Adi dengan gembira.

“Adi kan bisa cari uang sendiri ? Mengapa kok minta nenek uang yang sangat banyak itu.” Jawab nek Siti.

“Haduwh nek saya kan cuma minta sedikit ! Mngapa kok tidak boleh nek ?” jawab

“Ya meskipun nenek punya uang yang cukup banyak tetapi nenek tidak akan menyerahkan uang itu kepada orang lain termasuk kamu karena uang itu akan saya gunakan unutk pergi naik haji.” Jawab nek Siti dengan tegas.

“Ya ya nek, saya tidak akan memaksa kok.” Jawab Adi.

“Maaf ya di ?” kata nek Siti.

“Ya nek !” kata Adi.

Tetapi di dalam hati Adi, ia sangat marah kepada nek Siti yang tidak mau uangnya untuk diberikan kepadanya, kemudian Adi memikirkan cara untuk mengambil uang itu dengan cara apapun, ia langsung berpikir lagi untuk mencuri uang itu dari tangan nek Siti. Malam pun tiba setelah mereka semua makan malam, nek Siti biasanya langsung tidur. Adi dengan diam-diam masuk ke kamar nek Siti untuk mengambil uang itu, ia langsung menuju lamari tempat nenek Siti menyimpan uang, tetapi usahanya kali ini gagal karena ia terlalu semangat sampai menabrak lemari yang ada di kamar nek Siti dan menimbulkan suara yang mengakibatkan nek Siti terbangun. Pada hari selanjutnya Adi melakukan hal tersebut lagi. Usahanya kali ini berjalan dengan lancar dan ia berhasil mencuri uang dari lemari neneknya sendiri. Perilaku seperti ini jangan di contoh karena ia ingin mendapatkan sesuatu dengan cara yang tidak halal dan itu sangat merugikan dirinya sendiri dan orang lain karena ia akan membuat sulit orang itu untuk mengumpulkan uang itu tersebut dan rugi pada dirinya sendiri karena ia tidak akan pernah akan mendapatkan barokah dari setiap kegiatannya, dan itu sangatlah perbuatan yang tidak baik. Setelah itu Adi langsung pergi ke kota, tetapi sebelum ia pergi ke kota, Adi menuju rumahnya pak Bakri yan tidak jauh dari rumahnya, dan ia ingin pergi ke kota secepatnya. Adi dan pak Bakri akhirnya pergi ke kota, mereka melakukan perjalanan yang sangat jauh dan memerlukan waktu yang cukup. Setelah mereka sampai di kota langsung Adi dan pak Bakri mencari tempat kost untuk tempat mereka tinggal untuk sementara an itupun sangat sulit sekali, tetapi setelah mereka menemukan tempat untuk tempat tinggal mereka langsung beristirahat karena terlalu capek di perjalanan yang sangat jauh. Di lain tempat nek Siti dan Ina bingung mencari uang nenek yang hilang tetapi di rumah itu mereka tidak bertemu dengan Adi, Ina terus mencari uang itu dan akhirnya nek Siti mengikhlaskan uang itu, di dalam hatinya nek Siti berbicara bahwa ia belum ada panggilan untuk pergi beragkat haji. Maka dari itu nek Siti tetap sabar.

Setelah 2 hari Adi di kota ia akhirnya akan melamar pekerjaan di sebuah perusahaan yang pemiliknya sudah kenal lama dengan pak Bakri. Perusahaannya ini sangat terkenal di kalangan masyarakat di sekitarnya sebagai perusahaan yang sangat maju daripada perusahaan yang lain di kawasan daerah itu. Adi dan pak Bakri pergi ke perusahaan itu setelah mereka selesai makan pagi, mereka naik angkot. Adi masih agak gerogi untuk di tes di perusahaan yang sangat maju itu. Setelah mereka sampai di perusahaannya, Adi langsung masuk bersama pak Bakri. Pak Bakri langsung bertemu dengan temannya itu yang bernama pak Budi langsung saja beliau  diperkenalkan dengan Adi untuk bisa masuk ke perusahaan dan mendapat gaji yang besar. Setelah Adi dan pak Bakri selesai berbicara dengan pak Budi langsung saja Adi di perintah pak Budi untuk masuk ke ruangannya untuk dilakukan tes masuk kerja. Setelah mereka berbicara dengan lama akhirnya Adi keluar dari ruangan tes itu dengan wajah yang sangat gembira, ceria, dll yang menunjukkan bahwa dia sudah bisa bekeja di perusahaan tersebut mulai besok. Mereka langsung pulang menuju tempat mereka tinggal. Di lain tempat nek Siti dan Ina belum bisa berkomunikasi dengan Adi yang meninggalkan mereka di saat terjadi masalah, nek Siti merasa sangat kangen dengan Adi yang sudah beberapa bulan ini tidak memberikan kabar sama sekali, dan ia belum meminta restu pada nek Siti untuk pergi ke kota. Padahal restu orang tua itu sangatlah penting karena dapat menjadi do’a yang akan mengantarkan selamat waktu dalam perjalanan. Ina terus memikirkan segala cara untuk bisa mempertemukan Adi dengan nek Siti, Ina terus mencari informasi tentang keadaan Adi di kota. Di kota Adi dan pak Bakri sangat senang sekali karena Adi telah mendapatkan pekerjaan yang layak, akan tetapi pak Bakri menanyakan kepada Adi “apakah ia sudah minta restu kepada nek Siti yang ada di desa ?” Adi menjawab pertanyaan itu dengan sangat gampang sekali yaitu belum pak. Pak Bakri langsung kaget mendengar jawaban Adi tersebut. Tetapi Adi tidak menghiraukan ekspresi pak Bakri yang menurut Adi sangat berlebihan. Pagi pun tiba Adi sudah bangun pagi lebih awal lagi karena ia akan pergi kerja untuk hari yang pertama, ia bekerja mulai pagi hingga malam. Langsung Adi ingat dengan nek Siti dan Ina yang berada didesa, ia akan memberi kabar kepada mereka nanti setelah Adi pulang kerja. Langsung setelah Adi pulang dari kerja ia menulis sebuah surat kepada nenek yang inti dari surat itu ialah ia memberi kabar dan minta nenek untuk melupakan Adi karena ia akan malu jika nenek Siti bertemu dengan pak Budi, ia merasa bahwa nek Siti masih terlalu kampungan. Setelah surat itu diterima nek Siti dan ia membacanya, beliau langsung kaget setelah membaca surat itu yang isinya menuliskan agar nek Siti dan Ina melupakan Adi untuk selamanya. Kemudian nek Siti berdo’a agar Adi tetap mendapat hidayah dari Tuhan Yang Maha Esa dan ia bisa menyadari bahwa tulisan dalam suratnya itu sangat tidak baik dan itu sangat mengecewakan nek Siti dan Ina. Adi sudah mendapat pekerjaan tetapi ia ingin bebas dari nek Siti dan Ina yang selalu tiap hari tida ada pekerjaan yang baik. Adi sudah bekerja selama 3 bulan di perusahaan tempat ia mendulang rupiah, kemudian pada suatu hari timbul masalah yang menyangkut pekerjaannya karena ia telah melakukan kesalahan terbesar yaitu tidak pernah melakukan kegiatannya seperti hari-hari sebelumnya, ia selalu pergi waktu jam kerja dan ia sering membolos kerja karena ia merasa jabatannya lebih tinggi dari teman-teman kerjanya, dan itu membuat pak Budi gerah dan langsung memecat Adi dari perusahaannya dan Adi pun langsung menunjukkan ekspresi yang sangat kaget dan ia akhirnya ingatkata pak Bakri yang memeintah ia untuk meminta restu pada nek Siti yang telah merawatnya dari kecil hingga besar, tetapi ia malah mengirim surat yang tulisannya bertujuan untuk melupakan ia untuk selamanya. Ia pun menyesal dan akhirnya ia langsung kembali ke desa untuk meminta maaf kepada nek Siti dan Ina, waktu ia sudah sampai di desa Adi langsung berlutut di hadapan nek Siti dan meminta maaf dengan menangis penuh penyesalan dan akhirnya ia bisa berkumpul dengan keluarganya lagi untuk selamanya.

Karangan : Ahmad Rizal

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: