Puisi Seni Sejati

Puisi Seni Sejati

Hijau tampaknya Bukit Barisan
Berpuncak Tanggamus dengan Singgalang
Putuslah nyawa hilanglah badan
Lamun hati terkenal pulang

Gunung tinggi diliputi awan
Berteduh langit malam dan siang
Terdengar kampung memanggil taulan
Rasakan hancur tulang belulang

Habislah tahun berganti zaman
Badan merantau sakit dan senang
Membawakan diri untung dan malang

Di tengah malam terjaga badan
Terkenang bapak sudah berpulang
Diteduhi selasih, kemboja sebatang

(Kuplet Soneta M. Yamin….
Sesungguhnya ini merupakan pantun. Sutan Takdir Alisyahbana dalam “Puisi Lama” menyebut karya ini sebagai “Puisi Seni Sejati”)

Seni Itu Kata

Seni Itu Kata…

Takkan ada kata yang tak mampu diucapkan…

Dimulai dari deretan huruf berjejer membentuk sebuah kata…
Kadang kasat mata terlihat satu namun tak menutup kemungkinan sarat akan makna…

Jejeran kata dalam kalimat berdiri tegak bak benteng dipapan catur…
Sekilas dibaca membingungkan dan nampak tak beratur…

Sang penyair melantunkan kata kata indah nan puitis…
Sang pujangga pun mengukirkan puisi yang tak kalah romantis…

Mural dan Graffiti bertebaran di sepanjang dinding kota…
Menyuguhkan kata dalam gambar agar kelak mendapatkan perhatian…

Kadang kata tak cukup tuk mengungkapkan perasaan…
Tapi benar juga kata orang tua dahulu kala jikalau perasaan ga mesti diungkapkan…

Terdengar rancu mendengarkan kata bijak dari mulut seorang penjahat…
Namun sebijak bijaknya orang bijak jikalau mendengarkan meski tanpa melihat…

Hidup bagai mengumpulkan jejak kata kata…
Memungut dan menjadikannya sebagai pedoman hidup…

Tak pernah ada salah dari sebuah kata…
Tinggal cara memahami akan makna yang tersembunyi dibaliknya…

Mengungkapkan makna kata kata lewat seni…
Jalan hidup yang takkan membosankan…

Kata itu seni…
Tanpa sebuah kata seni takkan ada…

Bisa jadi sebaliknya…

Moral Kami Terhadap Seni

tak hanya menggoreskan sebuah coretan bermakna……………
untuk melimpahkan emosi kami dalam berkarya…….
mencoba kreasi tentang visual video dan audio anak manusia……….
adalah realisasi kami untuk hidup………..
kami berkreasi berdasarkan hukum seni…………….
yang tidak mengikat insan manusia yang berakal seni………….
itulah yang kami pijakan untuk merasakan posisi kita……………….
musik adalah raungan jiwa yang ada sejak kita hadir di dunia ini………………
dengan musik manusia akan lebih berirama dan bermelodi………………….
musik adalah anugerah dari atas menuju kebawah tempat kita berpijak……………..
sekarang ini…………………
ibaratnya manusia seni……………
kulit kami berlapiskan kanvas putih nan bersih…………………..
darah kami adalah cat berwarna-warni yang mengalir dalam tubuh……………….
tulang kami terbuat dari alunan-alunan not dan partitur dalam musik……………….
organ-organ tubuh adalah korelasi pahatan-pahatan dan ukiran seni……………….
otak kami terdiri dan masing-masing ego, pikiran dan idealis semua insan…………………
dalam otak yang keram menjadi sebuah ungkapan bernama Minoritas KramOtak………….
Seni dan agama adalah jiwa…………
raga kami adalah kendaraan perjalanan kami menuju sebuah harapan yang tak terbatas…………..

Seniman

Kau ingin memaknai makna

Di sekujur anggota badan

Pada seluruh panca indera

Seni tari dan Seni rupa

Yang terbentuk kemudian

Sebuah keindahan

Saat kau rangkai kata

Dalam alur cerita

Membangun peradaban

Bangsa dan negara

Melalui bahasa

Menjadi intan permata

Pada nestapa zaman

Menjalin kasih suci

Antara sesama insan

Membentuk benteng moral

Membekalinya pada perjalanan

Waktu yang bergulir

Hingga terukir

Pada batu sejarah

: Abadi selamanya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: